RajaKadal Forum
Would you like to react to this message? Create an account in a few clicks or log in to continue.


RAJAKADAL FORUM - Tempat Berbagi Info, Ilmu dan Diskusi
 
IndeksIndeks  PortalPortal  Latest imagesLatest images  PencarianPencarian  PendaftaranPendaftaran  Login  

Share | 
 

 Panduan Hidup Tanpa Syarat

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down 
PengirimMessage
Redbastard
Admin Jancok
Admin Jancok
Redbastard

Jumlah posting : 1010
Join date : 14.08.10
Lokasi : Warung Kopi Usah Kau Kenang Lagi

Panduan Hidup Tanpa Syarat Empty
PostSubyek: Panduan Hidup Tanpa Syarat   Panduan Hidup Tanpa Syarat EmptySun 13 Feb - 23:32

Spoiler:



Seberapa sering kita pernah merasakan ketenangan, pemenuhan diri dan kepuasan namun ternyata perasaan itu berubah menjadi rasa takut, marah atau kecewa hanya karena sesuatu yang kita harapkan terjadi atau tidak terjadi?

Seberapa banyakkah persyaratan di luar diri kita yang kita yakini perlu ada demi rasa bahagia di dalam diri kita?

Ada kalanya kita yakin bahwa turunnya berat badan, mendapatkan pekerjaan, atau promosi jabatan, membangun hubungan cinta, dan meraih hasil lahiriah lainnya akan membuat kita bahagia. Akan tetapi, setelah tujuan kita terpenuhi, selalu ada tujuan-tujuan lainnya yang menuntut untuk dipenuhi juga. Rasanya, kebahagiaan menjadi suatu yang ada di luar jangkauan kita.

“Apapun yang salah, pasti akan salah.” Sekalipun demikian, ketika ada yang menjadi salah, kita masih saja sering merasa heran. Kita menjadi bingung, merasa tidak siap, kehilangan keseimbangan, bahkan marah. Rasa tenang dan bahagia menjadi lenyap begitu saja. Segala hal yang kita anggap perlu agar segala sesuatunya beres, lenyap-dan kita pun kebingungan.

Yang nyata-nyatanya tejadi adalah: Mobil kadangkala mogok, pemesanan tempat bisa terukar, dan kencan bisa gagal. Orang-orang yang kita harapkan ternyata mengecewakan kita. Kecanduan dalam diri kita terhadap sesuatu tampaknya enggan hilang. Orang-orang yang kita cintai mungkin meninggal atau pergi. Kita kemungkinan kehilangan pekerjaan kita, relasi kita, kesehatan ataupun uang kita. Tubuh kita akan menua. Semua akan terjadi dan berubah,-demikianlah hakikat kehidupan ini.

Mungkinkah kita hidup di dunia ini tidak terpengaruh oleh segala bentuk kebingungan, rasa sakit, dan ketidak-adilan itu? Tentu saja terpengaruh. Persoalannya adalah bagaimana kita tepengaruh dan seberapa besar pengaruh itu terhadap kehidupan kita? Apakah ucapan sambil lalu yang dilontarkan teman kerja kita membuat kita? Apakah berita-berita mengenai kecelakaan pesawat, bencana, atau kejahatan membuat kita marah dan memutuskan untuk tidak lagi mempercayai pesawat udara atau sesama kita? Apakah percakapan di telepon selama lima menit dengan saudara kita membuat kita merasa bersalah atau cemas selama berjam-jam, atau bahkan berhari-hari?

Seberapa banyak kita rela mengorbankan kebahagiaan dan ketentraman kita demi kehidupan lahiriah kita? Jika kita memang tahu bahwa segala sesuatu di dunia ini bisa dan akan salah, mengapa kita masih saja mendambakan KESEMPURNAAN? Mengapa kita menunda untuk merasa bahagia, dengan bersikap seolah-olah kelak segala sesuatunya akan lancar sesuai dengan keinginan kita? Mengapa kita membiarkan segala sesuatu yang terjadi dalam kehidupan lahiriah di dunia ini menyebabkan berkecamuknya pikiran, perasaan, dan sikap di dalam diri kita.


Selama kita masih menjadi keadaan lahiriah kita sebagai kondisi yang bertanggung jawab bagi keadaan pikiran kita, selama itu pula kita akan terus hidup dalam ketegangan emosi.
Kalau kita baru merasa bahagia hanya jika tim pertandingan kita menang, kita justru lebih sering merasa tidak bahagia. Selama kita senantiasa menetapkan tujuan-tujuan demi kebahagiaan, ketentraman dan kepuasan di masa depan, kita tidak akan pernah meraih emas yang tersembunyi di ujung bianglala.

Dunia ini tercipta tidak untuk menuruti kehendak Anda ataupun orang lain. Kita dapat menghadapi realitas hidup di dunia ini dengan humor, fleksibel, dan ketentraman. Kita bisa menjalani hidup santai dengan melepaskan ketegangan yang tidak perlu ada. Kita akan baik- baik saja, apapun yang terjadi.



Tuhan melimpahi aku dengan ketenangan
Untuk menerima semua yang tidak mampu aku ubah
Keberanian mengubah yang mampu kuubah
Dan kebijaksanaan memahami perbedaannya



Menerima apa yang tidak mampu kita ubah berarti sungguh-sungguh menikmati pertandingan sepak bola, tidak perduli tim mana yang akan menang. Itu berarti menyadari bahwa dunia tidak akan berakhir jika kita pindah kerja, orang yang kita cintai tidak membalas cinta kita, atau karena kejadian-kejadian buruk yang anda alami hari ini. Itu berarti menyadari bahwa dunia dan seisinya, termasuk manusia, tidak ada yang sempurna-dan itu bukan masalah. Penerimaan sejati berarti lebih dari sekedar toleransi sambil bersungut-sungut; Penerimaan sejati berarti kebahagiaan dan ketenangan batin kita tidak terancam oleh keadaan dan peristiwa apapun.

Kita memohon kepada Tuhan untuk diberikan keberanian untuk mengubah hal-hal yang dapat kita ubah, di sinilah letak tanggung jawab pribadi kita. Satu-satunya yang dapat kita ubah adalah diri kita sendiri. Kitalah yang bertanggung jawab terhadap segala pikiran, tindakan dan sikap kita. Kita memenuhi tanggung jawab kita secara positif menyumbangkan diri kira di sekeliling kita dengan sebaik-baiknya melaksanakan, tindakan dan sikap kita. Dan kita semakin lama akan semakin baik seiring dengan waktu, praktek, serta dengan tidak menyia-nyiakan waktu dan tenaga terhadap hal-halyang tidak pernah dapat kita lakukan.

Mengambil tanggung jawab terhadap kebahagiaan kita tidak berarti kita tidak akan pernah mendapatkan kesulitan lagi. Kadang kala, hal-hal yang tidak kita harapkan malah terjadi, dan hal-hal yang kita harapkan terjadi ternyata tidak terjadi. Kita tidak akan selalu mendapatkan apa yang kita inginkan, dan apa yang kita dapatkan tidak akan selalu demikian bagus. Kita akan tetap merasa sakit hati, kecewa dan marah dari waktu ke waktu. Akan tetapi perasaan-perasaan itu tidak akan melukai kita sedemikian dalam atau berlarut-larut sehingga merusak hari, minggu, atau bahkan hidup kita.

Dengan mengembangkan pertumbuhan spirtual, ketenangan serta kekuatan batin kita, kita akan semakin mampu menerima dengan damai apapun yang terjadi di sekeliling kita. Naik turunnya kehidupan ini akan lebih seperti bukit-bukit yang menurun dan bukannya lembah-lembah dengan puncaknya yang mengerikan dan menakutkan.

Pada waktu kita mulai dengan memahami diri kita, mencintai diri kita, dan memusatkan daya diri kita dalam spiritual pribadi yang paling tinggi, kita akan mulai mengetahui bahwa kita akan baik-baik saja apapun yang terjadi dengan diri kita atau di sekitar kita. Kita mengetahui bahwa merasa bersalah untuk sesaat terkadang bukan masalah. Kita akan membiarkan masa lalu kita dan percaya bahwa masa depan akan membawakan sesuatu yang dapat kita lakukan, pelajari, dan kita akan berkembang dengan mengalaminya.


sumber : Buku Panduan Panduan Hidup Tanpa Syarat - Mekarlah dimanapun Kau Ditanam.


:optimis
Kembali Ke Atas Go down
http://red-creatives.com
 

Panduan Hidup Tanpa Syarat

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas 
Halaman 1 dari 1

Permissions in this forum:Anda tidak dapat menjawab topik
RajaKadal Forum :: Psychology & Personality Corner's-
Navigasi: